Jalur Lintas Selatan dan Kaitannya dengan Perkembangan Ekonomi Kelautan dan Perikanan di Pesisir Kabupaten Malang

Jalur Lintas Selatan yang membentang sepanjang duapuluh lima kilometer, melewati tiga kecamatan di pesisir Kabupaten Malang, yakni Kec. Sumbermanjing Wetan, Kec. Gedangan, dan Kec. Bantur. Jalan yang selesai dibangun pada akhir tahun 2016 ini memberikan kemudahan akses dan menghubungkan tujuh desa pesisir yang memiliki setidaknya duapuluh dua pantai yang telah dimanfaatkan sebagai kawasan wisata. Diantaranya adalah:

  • Pantai Sendang Biru dan Selat Sempu

Pantai Sendang Biru dan Selat Sempu terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo dan memiliki atraksi utama berupa perairan selat, dimana wisatawan dapat melakukan kegiatan susur pantai maupun memancing menggunakan perahu nelayan.

  • Pantai Clungup, Gatra, dan Tiga Warna

Pantai Clungup, Gatra, dan Tiga Warna merupakan satu kesatuan lokasi yang dikelola oleh POKMASWAS Gatra Olah Alam Lestari. Atraksi utama pantai ini berupa hutan mangrove dan pantai berpasir dimana pengunjung bisa melakukan kegiatan susur mangrove, kano, snorkeling, diving, pengamatan hewan liar maupun memancing di kawasan rumah apung.

  • Pantai Bangsong dan Teluk Asmara

Pantai Bangsong dan Teluk Asmara merupakan kesatuan lokasi yang dikelola oleh Perum Perhutani. Atraksi utama pantai ini berupa pantai berpasir dimana pengunjung dapat berjalan – jalan sambil melihat pemandangan bukit – bukit kapur khas pantai selatan.

  • Pantai Goa Cina

Di pantai yang terletak di Kecamatan Sitiarjo ini, pengunjung dapat berjalan – jalan pada pantai berpasir dengan melihat pemandangan bukit – bukit batu yang terletak di seberang pantai.

  • Pantai Watu Leter

Di pantai ini, pengunjung bisa berjalan – jalan di pantai berpasir sembari menikmati pemandangan gugusan batuan yang ada di sekeliling pantai.

  • Pantai Ungapan dan Bajul Mati

Di Pantai Ungapan, wisatawan dapat merasakan susur muara sungai yang dikelilingi oleh hutan mangrove. Sementara di Pantai Bajulmati merupakan kawasan peneluran penyu yang dikelola oleh POKMASWAS Pilar Harapan. Di Pantai Bajul Mati, wisatawan dapat melakukan kegiatan ekowisata mulai dari penanaman vegetasi untuk perbaikan habitat penyu, serta ikut terlibat dalam kegiatan pencarian dan pelepasan anakan penyu.

  • Pantai Kangen, Jolangkung, dan Parang Dowo

Di Pantai Parang Dowo, Wisatawan dapat bermain air di balik dinding karang yang memanjang di bibir pantai, namun tetap dengan pengawasan.

  • Pantai Watu Lepek dan Batu Bengkung

Di Pantai Batu Bengkung, wisatawan dapat menyusuri pantai atau menjelajahi bukit – bukit berbatu yang ada disekeliling pantai.

  • Pantai Buncaran dan Ngudel

Di Pantai Ngudel dan Buncaran, pengunjung dapat merasakan suasana rindangnya hutan cemara yang berada di tepi pantai.

  • Pantai Nganteb dan Wonogoro

Di Pantai Nganteb, wisatawan dapat berjalan – jalan di pinggir pantai atau menikmati kuliner lokal seperti ikan bakar, gurita, dan lobster. Sementara di Pantai Wonogoro terdapat kegiatan konservasi POKMASWAS Wonogoro di dalam melestarikan penyu di kawasan tersebut

  • Pantai Regent dan Balekambang

Pantai Regent dan Balekambang merupakan kesatuan lokasi yang terletak di ujung barat JLS. Di pantai ini terdapat daya tarik berupa pura (tempat peribadahan) yang berada di pulau kecil di seberang pantai. Disini pengunjung juga dapat menikmati kuliner lokal.

Terbukanya Jalur Lintas Selatan memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung bagi pengelola pantai – pantai yang telah disebutkan sebelumnya. Terbukti, tingkat kunjungan menuju pantai – pantai di sepanjang Jalur Lintas Selatan Malang mengalami peningkatan yang sangat tajam, terutama dapat diamati dari keramaian di tiap – tiap titik pantai selama akhir pekan atau libur panjang. Tingkat kunjungan ini juga dapat diamati dari review yang ditunjukkan pada halaman Google Maps, dimana pantai – pantai di Jalur Lintas Selatan Malang rata – rata merupakan pantai dengan tingkat review dan rating yang tinggi jika dibandingkan dengan pantai – pantai di bagian lain di pesisir selatan Jawa Timur.

 

Meningkatnya kunjungan menuju kawasan ini turut andil di dalam mengembangkan geliat roda perekonomian disepanjang Pesisir Selatan Malang. Usaha – usaha perikanan seperti penjualan ikan segar, usaha ikan bakar dan pengolah produk perikanan lain turut menerima dampak dari ramainya aktivitas wisata yang ada di kawasan pesisir. Usaha – usaha lain di bidang pariwisata, seperti jasa pemadu, jasa angkut kapal wisata, jasa persewaan alat snorkeling, hingga usaha guest house dan tempat penginapan lain juga turut berkembang pesat berkat ramainya kegiatan wisata yang ada di kawasan tersebut.

Jalur Lintas Selatan ini juga memberikan kemudahan akses bagi para pegiat konservasi kelautan di Pesisir Selatan Malang. Jalur lintas ini telah melewati setidaknya dua titik lokasi pegiat konservasi Pesisir Selatan Malang yang telah dikenal luas tidak hanya di Provinsi Jawa Timur, namun juga pada tingkat Nasional. Satu diantara titik kegiatan konservasi tersebut adalah kawasan konservasi Clungup Mangrove Conservation-Tiga Warna (CMC Tiga Warna) yang dikelola oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Gatra Olah Alam Lestari. Berawal dari usaha dan kerja keras yang dimulai semenjak tahun 2009, POKMASWAS Gatra Olah Alam Lestari kini mengelola kawasan konservasi mangrove terbesar di Pesisir Malang dengan luasan kurang lebih 80 hektar yang terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Adanya JLS memberikan kemudahan akses bagi wisatawan yang ingin terlibat secara langsung terhadap kegiatan ekowisata yang dilaksanakan di kawasan tersebut. Usaha pelestarian lingkungan ini bahkan tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga telah dilirik oleh banyak pihak dari luar negeri untuk bekerjasama di dalam pelestarian mangrove di wilayah tersebut. Terbukti pada tahun 2017, CMC Tiga Warna mendapat kerjasama pendanaan yang berasal dari Singapore untuk mendukung usaha pengelolaan kawasan dan pengembangan sumberdaya manusia di dalam melanjutkan usaha pelestarian lingkungan di pesisir Kabupaten Malang.

Selain itu JLS ini juga melewati kawasan konservasi Bajul Mati Sea Turtle Conservation (BSTC), sebuah lembaga swadaya yang diinisiasi oleh dua POKMASWAS, yakni POKMASWAS Pilar Harapan Bajul Mati dan POKMASWAS Wonogoro Nganteb yang keduanya berfokus terhadap pelestarian penyu di Pesisir Selatan Malang. Usaha yang ditekuni oleh kedua POKMASWAS semenjak beberapa tahun belakangan, kini telah menuai hasil dimana BSTC telah menetaskan dan melepaskan puluhan ribu anakan penyu kembali ke alam, serta melaksanakan giat rehabilitasi pesisir guna mendukung perbaikan habitat peneluran penyu di sekitar tigapuluh titik pendaratan penyu disepanjang Pantai Ungapan, Bajulmati, Buncaran, hingga Nganteb dan Wonogoro. Usaha ini pun juga telah mendapatkan atensi dari PT Pertamina dimana PT Pertamina telah memberikan kerjasama berupa pos pantau dan tempat peneluran penyu. Atensi pemerintah daerah dan SKPD setempat pu n juga terlihat sangat antusias, terbukti dengan selalu hadirnya perwakilan pemerintah daerah dan SKPD di setiap acara pelepasan penyu yang dilaksanakan di Pantai Bajul Mati dan Wonogoro. Dinas Kelautan dan Perikanan selaku Pembina POKMASWAS di seluruh Jawa Timur, juga turut serta memberikan bantuan, baik moriil maupun materiil, baik berupa pendampingan kegiatan dan bimbingan teknis maupun bantuan hibah peralatan dan fasilitas penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di dalam melangsungkan kegiatan konservasi di wilayahnya masing – masing.

Jalur Lintas Selatan ini juga melewati salah satu basis perekonomian pesisir yang terpenting di Pesisir Selatan Jawa Timur, yakni Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap, yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. PPP Pondokdadap selama beberapa tahun terakhir menunjukkan geliat produksi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya. Angka produksi perikanan PPP Pondokdadap selalu menempati posisi sepuluh besar pada data Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP) yang dipublikasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Tingginya produksi perikanan UPT PPP Pondokdadap, dan dengan hasil produksi berupa ikan ekonomis penting dari jenis Tuna, Tongkol, dan Cakalang yang berkualitas ekspor menyebabkan PPP Pondokdadap mendapatkan sejumlah program kerjasama baik dari instansi pemerintah pusat, daerah, maupun dari perguruan tinggi. Kerjasama yang berasal dari instansi pusat diantaranya adalah hibah berupa fasilitas fisik berupa Kios Ikan Nelayan (KIN) dan Integrated Cold Storage (ICS) oleh KKP serta hibah non-fisik berupa pelatihan sertifikasi S-CPIB dan pelatihan penanganan ikan yang diinisiasi oleh KKP yang bekerjasama dengan DG-SANTE Uni Eropa. Selain itu, dalam mendukung kegiatan perikanan di PPP Pondokdadap, UPT PPP Pondokdadap juga melaksanakan kerjasama riset dengan perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti Uniersitas Brawijaya dan Institut Teknologi Sepuluh November, serta lembaga riset pemerintah seperti Loka Riset Perikanan Tuna Benoa.

Sedangkan, di dalam menunjang kegiatan wisata yang ada disekitar kawasan pelabuhan, PPP Pondokdadap menggandeng POKMASWAS Gatra Olah Alam Lestari di dalam mengembangkan aktivitas wisata yang dapat dilakukan di sekitar kawasan pelabuhan. Dengan ditunjang berbagai peralatan modern yang memadai seperti alat SCUBA Diving, Perahu Karet, dan Kapal Operasional dan didukung dengan SDM yang berlisensi internasional, PPP Pondokdadap bersama POKMASWAS GOAL mengembangkan kegiatan ekowisata penyelaman, banana boat, susur tebing, susur mangrove, hingga wisata pemancingan offshore. Selain itu, beberapa kali POKMASWAS GOAL menjual paket wisata edukasi berupa observasi kegiatan pendaratan ikan tuna pada saat musim tuna di UPT PPP Pondokdadap kepada para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Musim tuna ini terkadang dimulai pada Bulan Juni – Juli dan mencapai puncak di Bulan September. UPT PPP Pondokdadap juga menyediakan guest house Wisma Madidihang dan rumah singgah Wisma Albakor yang salah satunya diperuntukkan bagi para wisatawan yang mencari tempat penginapan yang dekat dengan tempat wisata serta memiliki harga yang terjangkau. Atas tingginya hasil produksi yang didaratkan, dan didukung dengan pelayanan prima dan kerjasama yang baik terhadap lembaga eksternal, UPT PPP Pondokdadap mendapat anugerah nasional sebagai Pelabuhan Perikanan Pantai dengan Operasionalisasi Terbaik di tahun 2018.

Salah satu hal yang mendukung terjadinya semua pencapaian ini salah satunya dalah kemudahan akses yang diberikan oleh JLS untuk menuju ke kawasan PPP Pondokdadap, sehingga para pengguna jasa perikanan dari tingkat supplier, distributor, maupun konsumen, kini dapat menjangkau kawasan PPP Pondokdadap dengan mudah. Hal ini dapat diamati dari tingkat pendapatan pedagang ikan yang ada di kawasan UPT PPP Pondokdadap, dimana dengan adanya fasilitas berupa pasar ikan modern dan higienis yang dikenal dengan nama “Kios Ikan Nelayan/KIN” dan ditunjang dengan akses yang sangat mudah, pada tahun 2018 hingga 2019, nilai penjualan para pedagang KIN secara global mengalami peningkatan sebesar 46% dengan nilai perputaran ekonomi sekitar Rp. 20.596.424.400,-.

Peluang berupa akses yang sangat terbuka lebar ini juga mulai dimanfaatkan oleh PPP Pondokdadap di dalam mengembangkan pelayanan dan mendukung kegiatan perekonomian lokal disekitar kawasan PPP Pondokdadap. Salah satunya adalah Integrated Cold Storage di kawasan UPT PPP Pondokdadap, yang merupakan fasilitas pembekuan dan pengolahan ikan yang berkapasitas 100 ton, yang sangat berpotensi untuk menunjang perekonomian lokal dengan menyediakan lapangan kerja melalui unit pengolah ikan yang mengolah ikan segar menjadi bahan setengah jadi seperti fillet, loin, dan steak yang tentunya semakin menambah keragaman produk perikanan yang diproduksi di lingkungan UPT PPP Pondokdadap. Selain itu, UPT PPP Pondokdadap juga telah menyiapkan Gedung Sarana Produksi Perikanan yang ditujukan untuk menunjang pemasaran produk lokal, dimana produk – produk hasil olahan UMKM lokal diberi fasilitas untuk dipasarkan di dalam kawasan yang modern dan higienis. Usaha – usaha UPT PPP Pondokdadap di dalam meningkatkan diversifikasi produk perikanan juga didukung oleh adanya program Ocean Farm ITS, yakni karamba jarring offshore hasil rekayasa teknologi tim Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya yang memadukan antara kegiatan budidaya dan ekowisata pada KJA yang dirancang untuk dapat menahan gelombang hingga setinggi duabelas meter. KJA Ocean Farm ITS ini nantinya akan berpotensi sebagai pemasok ikan kualitas tinggi (ikan hidup) yang tentunya mampu meningkatkan daya saing produk yang dipasarkan di UPT PPP Pondokdadap. Ditambah lagi, melihat dari geliat aktivitas wisata dan industri perikanan di Malang Selatan Perum DAMRI meluncurkan dua armada bus bersubsidi yang bertujuan untuk memberikan angkutan berbiaya rendah yang melayani trayek Malang – Balekambang – Sendang Biru PP. Dukungan – dukungan ini tentunya memiliki andil yang sangat besar di dalam mempercepat gerak roda perekonomian di daerah Pesisir Selatan Malang.

Dari hal – hal yang telah dikemukanan secara rinci diatas dapat diketahui, bahwa keberadaan jalur lintas selatan memiliki dampak yang sangat positif bagi kelangsungan kegiatan ekonomi di kawasan pesisir, baik melalui kemudahan akses bagi para pengusaha perikanan di dalam mendistribusikan produk perikanan yang mereka hasilkan, maupun mengembangkan pasar untuk menjangkau konsumen yang kini lebih mudah dijangkau karena jarak tempuh yang singkat. Selain itu, kemudahan akses menuju kawasan pesisir ini juga membuka peluang baru dari sektor wisata pesisir dan ekowisata bahari, yang dapat memberikan sumber ekonomi alternativ bagi masyarakat pesisir ketika menghadapi musim paceklik ikan yang terkadang terjadi pada awal-awal tahun, sehingga kegiatan perekonomian pesisir tetap dapat berjalan dan dapat memberikan manfaat yang luas bagi seluruh masyarakat yang ada di kawasan tersebut.  

Terakhir, pembangunan Jalur Lintas Selatan Malang tahap II yang ditargetkan selesai pada tahun 2022 tidak menutup kemungkinan akan membuka peluang serupa pada dua kecamatan pesisir yakni Kec. Bantur dan Kec. Donomulyo, serta terbukanya akses menuju Kabupaten Blitar, diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru yang dapat menunjang roda perekonomian masyarakat pesisir. Dalam menyongsong peluang yang semakin terbuka ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur bersedia untuk melakukan pengamatan dan mendengarkan aspirasi masyarakat pesisir untuk menangkap peluang tersebut dan memanfaatkannya melalui program dan kegiatan yang mampu menunjang kegiatan ekonomi maupun konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat pesisir agar kedepannya masyarakat pesisir semakin maju, mandiri, dan terus berinovasi dalam memanfaatkan peluang yang terjadi disekitarnya.